• Twitter

19 Juli 2015

PELANGI DAN BUNGA


Hai Bunga...
Hai bunga di taman yang indah...
Hai bunga yang indah di taman...
Seperti bintang-bintang di langit, aku hanya mampu melihatnya dari kejauhan.
***
Sepenggal puisi yang kuterima darinya, yah, sosok yang kusayangi, tapi kita terperangkap dalam cinta segitiga. Kusebut lelaki itu PELANGI. Tapi, pelangi ini bukanlah sebuah efek dari hujan yang warnanya mejikuhibiniu. Bukan. Jadi ceritanya aku mendapat jajanan arum manis darinya, yah seperti yang kita tahu arum manis itu warnanya beragam layaknya pelangi. Sejak hari itu, kami saling dekat, dekat yang semakin intim, bukan lagi hanya jalan berdampingan, kita sudah melakukan banyak hal.
Hingga suatu ketika, aku ingat, sangat mengingat moment itu, 18 Maret, kita duduk dalam satu meja yang sama, kau duduk disampingku, menatap mataku dengan senyummu yang khas, kau berkata, “Sebagai lelaki yang normal, hingga sejauh ini kita melangkah, apa yang telah kita lewati bersama, dan yang telah kita lakukan berdua. Tentu. Tentu aku menyayangimu...” Aku sontak terdiam. Kita sama-sama berbicara dengan mata dari hati ke hati, melalui ucapan dengan sentuhan tangan yang lembut. Yah, kita menikmati malam itu. Kita tau, kalau kita saling menyayangi, tapi kita juga tau apa resikonya jika kita terus saling menyayangi. Mungkin sakit? Atau bisa jadi “mati”!
Hari ini aku diingatkan olehnya, pelangiku. Aku merindukanmu. Kelak aku berharap kita bisa berada dalam moment dimana kita bisa menumpahkan keluh kesah yang ada, kita bisa saling meluapkan gelora api cinta dan rindu yang mengendap di hati.  Pelangi, sama halnya puisimu, seperti bintang-bintang di langit, aku hanya mampu melihatnya dari kejauhan. Pelangi, aku masih disini, menunggu dirimu menampakkan wajah tampanmu dan mengajakku kembali untuk berkeliling, yah, mengelilingi dunia, dunia kita berdua...
Pelangiku, entah mengapa aku bahagia, aku bahagia mendengarmu memanggilku “Bunga”. Bunga? Entah mengapa kau memanggilku Bunga, tapi yasudahlah aku senang kau memanggilku Bunga. Kau satu, dan satu-satunya yang memanggilku Bunga...
Pelangiku, berapa lama kita akan saling dekat begini? Aku berharap kita bisa saling dekat saat kita masih dalam satu wilayah yang sama, aku berharap kita masih saling bersama saat jarak mulai memisahkan kita. Pelangi, entah seberapa besar rasa sayang ini, aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
Pelangiku... Aku masih, menyayangimu...


Jakarta, 1 April 2015

0 Komentar:

Posting Komentar