• Twitter

29 Agustus 2020

UNTUK AIR YANG TAK TERDUGA (part 3)

“Suaramu masih begitu melekat di telingaku sesaat setelah aku pergi menjauh. Aku masih menyangka bahwa semua ini hanyalah mimpi indah, yang saat kuterbangun aku akan menangis karena bahagia. Tapi rupanya ini adalah kenyataan. Yaa, kenyataan, bahwa kita baru saja saling berjabat tangan, saling berpandangan dengan lekat dan saling tersenyum. Terima kasih..”

 

Aku kembali memutar otak, Aku harus ngomong apa nih setelah ini?! Apa yaa?? Hhhmm… Akhirnya aku tersenyum, begitu melihat tempat kost mu yang terlihat tak biasa. “Di sini kost nya mahal ya?” begitu tanyaku. Kamu pun menjawab dengan santainya, “Enggak sih, berapa ya kemarin, 2,3juta.” DEG! Sesaat aku kaget, like?? Whaatt?? 2,3 per bulan kamu bilang gak mahal? Hhhmm, oke baik! Aku pun hanya tersenyum kecut. Kemudian kau pun menjelaskan “Di sini tuh enaknya, tempatnya dibersihin tiap hari”. Trus aku shock dong? Aku tanya lah “Dibersihin gimana? Kayak hotel gitu?”, kau pun hanya mengangguk, kemudian kembali menjelaskan “Iya, trus pakaiannya dicuciin. Trus juga keamanannya terjamin. Tadi mas-mas yang duduk di situ itu stay 24 jam di sini, jaga di sini”. Aku pun mengangguk paham. 

28 Agustus 2020

MIMPI

Tuhan, inikah petunjuk yang selalu kupinta di sepertiga malamku? Inikah pertanda bahwa kelak aku akan dibersamakan dengannya? Tuhan, apapun itu, aku selalu berharap jawabannya adalah “Iya”.

 

Merah, apa kabar? Lama tak bersua. Aku ingin bercerita.. 

Tentang Air, yang kedatangannya selalu tak terduga, terkadang membawa kedamaian, atau bahkan sebaliknya, membawa malapetaka.

Merah, aku merindukannya.. 

Setelah sekian lama aku sudah tak pernah merasakan perasaan semacam ini lagi, rupanya sekarang aku dihadapkan pada masa ini.. Malam yang selalu berteman air mata, aku kembali diingatkan olehnya, sosok yang tak pernah kuharapkan setiap malamnya. Tapi diam-diam aku menyebut namanya, berharap ada namaku dalam ingatan dan hatinya. Rupanya, aku masih menyayanginya..

23 Agustus 2020

UNTUK AIR YANG TAK TERDUGA (part 2)

“Menatap matamu masih menjadi bagian terfavoritku, meneduhkan dan menenangkan. Terima kasih telah hadir, telah memberikan senyum, dan hidup di sekitarku. 

Untuk kali ini, tolong jangan biarkan aku pergi…”

 

Otak dan jantungku sedang bertengkar hebat, mencoba untuk tenang, namun terasa begitu sulit. Akhirnya aku pasrah, membiarkan semua mengalir begitu saja. Hingga akhirnya kumelihatmu keluar dari pagar berwarna hitam itu, mengenakan baju kaos hitam dan celana pendek hitam. Seketika ingatanku kembali ke tiga tahun lalu, saat di mana jantungku berdetak sangat kencang untuk pertama kalinya bertemu denganmu. Dan kali ini, jantungku kembali berdetak kencang, entah karena apa. 7 Agustus 2020, mungkin akan menjadi tanggal yang tak akan pernah kulupakan. Hari pertemuan pertama kita, di Jakarta. 

15 Agustus 2020

UNTUK AIR YANG TAK TERDUGA (part 1)

“Tuhan kucinta dia, kuingin bersamanya, kuingin habiskan nafas ini berdua dengannya. Satukanlah hatiku dengan hatinya, bersama sampai akhir~”

 

Hampir sebulan lamanya. Di setiap doaku, di setiap air mataku, dan di setiap usahaku, selalu kusebutkan namamu, kepada-Nya. Walau begitu banyak orang yang berusaha memberitahuku untuk “Berhenti”, namun entah mengapa, aku tidak sedikit pun goyah. Mungkin karena aku yakin, Dia yang Maha Segalanya akan membantuku. Aku hidup dengan harapan, tapi selama sebulan itu pula lah, harapan itu seolah ingin dimusnahkan olehmu. Iya, oleh Kamu, sosok yang kusebut Air, sosok yang selalu tak terduga, aku bahkan tidak dapat membaca segala situasi yang berhubungan denganmu. Benar-benar dibuat bingung aku olehmu. Tapi, harapan akan selalu menjadi harapan, jika aku hanya diam saja, bukan? Nyatanya, selama ini aku memang benar-benar diam. Karena sejujurnya, aku bingung, bagaimana harus bersikap denganmu. Karena kamu, adalah Air yang tak terduga.

3 Agustus 2020

SEBAB AKU MENCINTAIMU

Skenario. Drama. Konflik. 

Aku baru menyadari mengapa Tuhan membawaku melangkah sejauh ini. 

Mengikuti arus yang bahkan aku tak tau dimana ia akan berhenti.

Seperti burung merpati yang terus mengirimkan surat tak berarti. 

Aku tenggelam dalam drama dan konflik yang kubuat sendiri. 

 

Aku suka saat aku sendiri, sebab aku bisa membacakan semua skenario yang telah aku tulis. 

Aku suka membayangkan dirimu menjadi tokoh protagonist yang melakukan aksi, dan aku menjadi konflik dalam cerita itu.

Aku suka saat mengucapkan dialog kita yang begitu emosional, hingga harus ada yang menangis. 

Aku suka membuat ending yang menenangkan, sebab agar aku bisa tidur nyenyak setelah itu.