• Twitter

12 Agustus 2018

BERSAMAMU


Jika kau bertanya sebesar apa cintaku padamu? Bukan aku tak mampu menjawab sebesar apa itu. Sama halnya ketika kau pernah berkata, "Aku bahkan rela bertaruh nyawa demi melindungi Bella." Kau adalah lelaki pertama yang mengatakan hal itu langsung padaku di kamarmu saat itu, di depan wanita yang mungkin sangat mencintaimu. Hatiku bergetar. Pertahananku seolah ingin runtuh kala itu. Aku seperti ingin menangis, karena rasa bahagia yang begitu besar. Jiwaku merasakan damai dan nyaman hingga tulang rusuk.

Aku bertanya pada Tuhan, “Benarkah satu tulang rusukku ada pada tubuhnya? Benarkah lelaki ini yang Kau kirim untuk bersamaku dan melindungiku hingga akhir hayatnya? Aku merasa beruntung, Tuhan. Sangat beruntung.”

9 April 2018

TIDAK ADA GUNANYA MELAKUKAN PEMBELAAN DIRI

Entah mengapa hari ini aku tiba-tiba sedih, bukan, tenang, bukan karena masalah cinta.
Ini adalah kisah, tentang seorang Bella, yang terbawa perasaan, dan akhirnya menganggap dirinya sendiri bodoh!!!
Hari ini, entah hari ke berapa aku menulis plot, dan aku merasa selalu gagal! Ya! Aku mengakui diriku sendiri telah gagal!
Tapi, aku mencoba menyelami hatiku yang terdalam. Bagian diriku yang manakah hingga aku tak mampu melakukan semua ini? Aku seperti bukan Bella. Atau orang lain membuatku menjadi bukan Bella?
Aku menghela nafas, berat, berat sekali menerima kenyataan hari ini.

7 April 2018

Pertemuan SINGKAT?


Saya adalah orang yang percaya bahwa ‘Setiap pertemuan pasti ada perpisahan’, saya juga percaya, ‘Setiap pertemuan yang terjadi dengan cepat, maka cepat pula berakhir’, tapi kepercayaan ini runtuh karena seseorang menjawab “Oh no, jadi gini, pertemuannya bisa cepat, tapi gimana proses menjalani hubungan itu, bisa lama, jadi ga mungkinlah bakal cepat berakhir” Saya tersenyum mendengarnya.

17 Maret 2018

Tersenyum.

Selamat malam, Merah.
Hari ini aku ingin bercerita, entahlah, hanya denganmu aku ingin berkeluh kesah. Bukan tentangmu, tapi tentang AKU!
Aku hanya sedang merasa bingung pada diriku sendiri, hari ini ada dua hal yang menjadi kegelisahanku malam ini.
pertama, ttg suka panda = pengalihan merah
kedua, menulis stripping, aku harus bagaimana?

19 Februari 2018

HARI PERTAMA STRIPPING

Hari ini, apa aku perlu memberi apresiasi pada diriku sendiri? YA TENTU SAJA!

Beberapa waktu lalu, seorang anak lelaki bertanya padaku, “Ada pencapaian apa yg belum dicapai?” dan refelks aku menjawab, “Kerja stripping, hehe”, karena jujur sejak tahun 2013, pertama kali aku akhirnya memutuskan untuk mengambil jurusan penulisan scenario. Sebut saja namanya Aldi, seorang senior yang membangkitkan semangatku dengan mengatakan, “Udah, kamu skenario aja. Setelah lulus nulis stripping aja, ini aja macbook ku beli dari gajiku dua minggu, eh gak sampe deh, sepuluh hari doang”. Ehm, tanpa pikir panjang entah mengapa aku langsung mengubah haluan yang tadinya ingin menjadi sutradara atau editor, malah aku bertekad “Oke, skenario aja, fix!”. Jujur, ada sedikit beban ketika aku lulus di tahun 2016. Hal pertama yang terlintas di benakku selepas setelah mas Arda mengatakan bahwa aku LULUS di tanggal 26 Februari ketika yudisium. “Be, mau kerja di mana?”,

9 Januari 2018

Aku yang bodoh, Merindukanmu...

Malam yang terlalu dingin ini  menemani kesendirianku yang berteman sepi. Aku yang tak terdefinisi. Aku bahkan bingung pada diriku sendiri, yang terlalu naif, pecundang, dan tak tau diri. Mencoba untuk ingin mengulang segala rasa yang pernah ada. Tapi aku bahkan tidak jujur pada diriku sendiri. Entah aku yang terlalu bodoh, atau aku hanya takut pada realita?
Yaaa, realita yang tak pernah sejalan dengan hati, yang selalu bertolak belakang dengan mimpi. Yaaa, mungkin aku takut pada realita. Dan aku terlalu bahagia akan mimpi.
Memimpikanmu masih menjadi hal paling menyenangkan.
Atau mungkin, aku memang terlalu bodoh. Mengharapkan hal yang mustahil terjadi. Memilih untuk menjadikanmu nyata, bahkan dalam mimpi saja kau tak pernah terasa begitu nyata. Bagaimana mungkin kamu akan benar-benar nyata (?)

13 Juli 2017

Mengapa begitu sedih hariku di hari bahagiamu?

Mengapa begitu sedih hariku di hari bahagiamu?
Apa hanya aku yang merasakannya?
Apa hanya aku yang berpikir begini?
Aku lupa apa salahku padamu di masa lalu
Tapi aku merasa, sepertinya aku terlalu kasar hingga kau begitu membenciku saat ini L

3 Juli 2017

Cerita malam ini~

Hai, Merah
Apa kabar? Aku hanya ingin bercerita, cerita malam ini.

Malam ini, aku tidak tau apa yang sebenarnya aku rasakan. 
Saat berangkat, yang kupikirkan hanyalah "Berangkat gak ya? Tapi gak ada yang deket, nanti kalau canggung gimana  -_-"
Hingga akhirnya aku bertanya pada teman, "Apa yang akan lo lakukan ketika akan dateng ke kumpul2 smp, dan ketemu orang2 yang gak pernah sedikit pun akrab sama lo?"
Dan berkat saran darinya, akhirnya aku memutuskan untuk datang dan menemui mereka.

Ya, teman-teman SMP. Walau hanya segelintir orang.
Audy, Hafiz, Ragil, Derri, Ardiansyah, Luqman, Rahma.

1 Juli 2017

Mencaci, Memaki dan biarkan terhempas

"Lo tau kenapa gue bersikap seperti ini?
Karena yang terjadi adalah gue nyaman, kemudian suka dan berlanjut sayang, gue rela ngasi apa pun buat lo sampai akhirnya gue jatuh cinta sama lo. Tapi endingnya? Lo malah jadian sama cewek lain! seolah-olah gue gak ada artinya apa-apa.
Lo tau gak sih rasanya? Sakit! Ketika ada yang menyayangi lo dengan tulus, bahkan saat masih sayang-sayangnya terus dikecewain.
Gue… Rela ngasi apa pun. Apa pun!
Waktu, kasih dan sayang serta raga. Hampir semua gue kasi buat lo. Tapi pada akhirnya gue merasa lelah berjuang sendirian.
Lo mungkin gak akan pernah tau bahwa –hati– bisa dengan mudahnya menyerah saat ia tidak lagi dipedulikan"

Hari itu, aku menangis sejadi-jadinya.

Ya, hari ulang tahunmu.

8 Juni 2017

Selamat ulang tahun

Merah, aku masih saja menyukaimu, warna yang selalu aku cintai, hingga detik ini.

Merah, aku ingin bercerita.
Merah, aku harus bagaimana? Aku mencintai sesosok lelaki, yang berbeda. Sangat berbeda, kurasa...

Dia, lelaki yang membuatku mau menulis tentangnya, hampir setiap hari.
Entah atas dasar apa, tapi aku begitu memikirkannya, setiap hari.
Dan aku tak tau mengapa, rasa ini semakin besar, setiap hari.
Tapi merah, aku bahkan tak pernah tau, bagaimana perasaannya kepadaku, dia juga tak pernah mengatakannya secara langsung.