• Twitter

17 November 2016

Di takdir manakah kita akan bertemu kembali?

Welcome~
Maaf, melupakan hari dan bulan bahagiamu. Karena...
Cause I know you'll be happy without me~

Hai, merah, apa kabar kamu? Lama tak bersua di blog. Aku rindu juga akhirnya :')
Ya, rindu, lebih tepatnya rindu padamu.
Lelaki yang hingga detik ini masih melekat di hati.
Maaf! Mianhae! Dui bu qi!
Mungkin ini yang disebut cinta sejati. Pergi sejauh apapun aku, Tuhan selalu punya cara untuk mendekatkan kita. Dan sejauh apapun aku berlari untuk melupakanmu, Tuhan selalu ada saja cara untuk mengingatkanku akan dirimu.

27 Oktober 2016

Ada apa dengan Taiwan? Suka, kemudian lupa, dan kembali diingatkan :')



Wan an...
Demikian ucapan "Selamat malam" di Taiwan...

Wei...
Demikian ucapan "Hello" di Taiwan...

Oke, langsung aja to the point.
Akhir-akhir ini, lebih tepatnya 5 bulan terakhir ini, sejak Mei, aku jatuh cinta dengan Taiwan.
Semua berawal dari temen sekantorku, namanya Kak Mayang, dia tiba-tiba nyeletuk, "Eh, kalian waktu kecil nonton Meteor Garden gak sih? Gue kangen nih tiba-tiba, pengen nonton lagi". Aku yang saat itu lagi sibuk sama deadline, tiba-tiba senyum-senyum sendiri. 
Why? Karena dalam hatiku menjawab "GILA! AKU KANGEN BANGET SAMA METEOR GARDEN".

23 Februari 2016

Aku pergi...


Hai, merah.
Aku pernah izin padamu, aku pamit J ehm tidak, tidak mengatakannya secara langsung padamu, hanya melalui sedikit rangkaian kata pada sosial mediaku.
Maaf, aku bukan pergi tanpa alasan, begitu banyak pertimbangan yang bergejolak dalam hati ini, Langitku. Banyak, begitu banyak.
Aku sempat bersorak bahagia saat mendengarmu akan ke kotaku. Kukira ini benar-benar skenario Tuhan yang begitu indah, hingga Tuhan mengirimmu ke sini. Mungkin untuk merajut kembali kisah yang belum terselesaikan. Tapi, ternyata aku salah. Tuhan punya rencana lain. Kudengar, kekasihmu, mungkin lebih tepatnya mantan kekasihmu, berada pada satu kota denganmu? Aku senang mendengarnya, tapi sejujurnya, ada sedikit rasa ngilu.
Aku tak tau harus merespon apa, ketika suatu siang aku mendapat pesan darinya, ragu, antara ya atau tidak untuk membalas. Tapi, siapalah aku yang sok sombong tidak ingin membalas? Akhirnya aku membalasnya, walau ada sedikit rasa takut.

2 Januari 2016

Kisah malam ini.

“Senangnya menjadi kecil. Kadang tak perlu memikirkan persoalan sepelik ini”

Kalimat malam ini sebelum aku terlelap. Sejenak aku memejamkan mata. Sakit. Semuanya terasa sakit. Jiwa dan raga, semuanya tanpa terkecuali. Semuanya seperti tak bernyawa, ada, tapi terpenjara. Ada, tapi tersudut tak berteman. Ada, tapi sendiri. Aku takut, aku takut sendiri. Aku sakit, aku sakit sendiri. Mah, pah, aku gak tau harus apa. Aku gak tau harus bagaimana. Aku lemah, aku lemah tanpamu...

Kadang aku berharap menjadi kecil, ya anak kecil yang tanpa beban, anak kecil yang bebas tertawa sesuka hatinya, anak kecil yang selalu dimanja kedua orang tuanya, anak kecil, aku ingin kembali kecil mah, pah...

Mah, pah, aku lemas, aku seperti tak bertulang, aku tak dapat menopang diriku sendiri, aku sedang tidak baik, anak kecilmu ini merintih kesakitan, anak kecilmu ini butuh kamu...

Rindu? Tidak, aku tidak sedang rindu
Marah? Tidak, aku tidak sedang marah
Lalu? Aku gak tau...

Aku gak mau pulang, tapi aku butuh kamu...