• Twitter

23 Agustus 2020

UNTUK AIR YANG TAK TERDUGA (part 2)

“Menatap matamu masih menjadi bagian terfavoritku, meneduhkan dan menenangkan. Terima kasih telah hadir, telah memberikan senyum, dan hidup di sekitarku. 

Untuk kali ini, tolong jangan biarkan aku pergi…”

 

Otak dan jantungku sedang bertengkar hebat, mencoba untuk tenang, namun terasa begitu sulit. Akhirnya aku pasrah, membiarkan semua mengalir begitu saja. Hingga akhirnya kumelihatmu keluar dari pagar berwarna hitam itu, mengenakan baju kaos hitam dan celana pendek hitam. Seketika ingatanku kembali ke tiga tahun lalu, saat di mana jantungku berdetak sangat kencang untuk pertama kalinya bertemu denganmu. Dan kali ini, jantungku kembali berdetak kencang, entah karena apa. 7 Agustus 2020, mungkin akan menjadi tanggal yang tak akan pernah kulupakan. Hari pertemuan pertama kita, di Jakarta. 


Melihatmu melangkah ke arahku, entah mengapa terasa menghangatkan. Aku langsung tersenyum begitu saja, seperti ada magnet yang menarik ujung bibirku untuk melebarkan senyuman itu. Dan kau membalasnya dengan begitu manis, hingga aku pun tersipu. Kamu berjalan mendekatiku, dan tiba-tiba mengulurkan tangan sambil menanyakan kabarku, “Hai, apa kabar?”. Aku pun menerima uluran tanganku sambil tersenyum dan tentu saja menjawab “Alhamdulillah baik. Kamu?”. Kembali dengan senyummu itu kau menjawab “Alhamdulillah. Baik. Darimana kamu?”. Aku berpikir sejenak, kemudian mejawab “Kampus”, jawabku sesingkat itu. Dengan wajah bingungmu yang lucu kau pun menjawab “Lah ngapain? Kamu masih di Kampus?”, aku pun menangkap maksudmu dan langsung saja kujawab “Oh?! Enggak. Itu, akuu ngasdos.” Kamu pun mengangguk paham, dan aku masih terus tersenyum. Entah mengapa magnet itu tidak mau pergi, dia terus membuatku tersenyum. Kemudian kau bertanya “Oalaahh, ngasdos. Dimana toh kampusmu?”. Aku menjawab seadanya, “Dekeet dari sini, Cuma sepuluh menit.” Kamu tampak bingung sesaat, “Sepuluh menit ya lumayan sih”. Dalam hati aku tertawa, dia gak tau aja di Jakarta sepuluh menit itu dekeett, cuma karena macet aja jadi kerasa jauh, haha! Aku pun menjawab “Enggak tauk, deket sebenernya, Cuma macet aja, di situ, proklamasi”. Nampaknya kau seperti bingung lagi, aku pun bertanya lagi “Kamu gak tau proklamasi?”. Kali ini kamu tersenyum malu, sambil menggeleng, “Gak tau, orang gak pernah kemana-mana, haha”. Aku pun tersenyum dan tertawa, “hahaha, jadi kamu Cuma bolak balik rscm aja ya tiap hari?”. Kamu masih dengan senyum malumu, mengangguk, kali ini sambil menatap mataku dengan lekat. Dan pada detik itu mata kita saling bertatapan dalam sepersekian detik, aku pun tersipu, dan kembali  melanjutkan obrolan. “Naik apa ke rscm fi--? Jalan?”, kamu mengangguk lagi, “Iya, jalan, deket lagian di situ”, sambil menunjuk ke sebuah arah. Aku pun shock mendengarnya, “JALAN?! Seriusan?”, kali ini kamu yang tampak shock sesaat “Iya beneran. Cuma lima menitan lah ke sana.” Aku pun hanya bergumam Iya jalan lima menit ya lumayan sih ya, haha. 

 

Kita terdiam sesaat, hening, kemudian kamu bersuara lebih dulu, “Kado apaan bel? Kan ulang tahunnya udah lewat, udah lama”. Aku pun tersenyum dan menjawab, “Iyaa, belum lewat sebulan kan? Berarti belum lama itu. Lagian aku juga udah bilang mau ngasi kado! Lupa ya? haha”, kamu pun mengangkat alis sambil tersenyum, mungkin kamu bingung mau menjawab apa, haha. Aku pun mengambil sebuah paper bag dari dalam tas, dan segera memberikannya padamu. “Nih, dibuka yaa nanti”, begitu kau menerimanya, wajahmu tampak sumringah sesaat, kamu hendak membukanya “Wah makasih yaa, apaan nih?”. Entah mengapa aku reflex menjawab “Eh jangan dibuka di sini, nanti aja di dalem”. DEG! Sesaat aku bingung, padahal mah kalo mau dibuka sekarang juga gakpapa sih, hahaha! Dasar hati! Gak bisa banget diajak kompromi, gerogi nih aslik! Tapi ternyata kau mengeluarkannya juga, kamu mengambil kotak itu dan wajahmu tampak bingung sebentar, “Apaan nih? Tepak? haha”. Dan seketika itu pun aku tertawa pula, “hahaha! Yakali tepak.. Ya boleh lah, tepak iya tepak.” Kita pun saling berpandangan sesaat dengan senyum merekah di bibir kita. Aku bahagia...

 

 

To be Continued...

 

0 Komentar:

Posting Komentar