Malam yang terlalu dingin ini menemani kesendirianku yang berteman sepi. Aku yang tak terdefinisi. Aku bahkan
bingung pada diriku sendiri, yang terlalu naif, pecundang, dan tak tau diri.
Mencoba untuk ingin mengulang segala rasa yang pernah ada. Tapi aku bahkan
tidak jujur pada diriku sendiri. Entah aku yang terlalu bodoh, atau aku hanya
takut pada realita?
Yaaa, realita yang tak pernah sejalan dengan
hati, yang selalu bertolak belakang dengan mimpi. Yaaa, mungkin aku takut pada
realita. Dan aku terlalu bahagia akan mimpi.
Memimpikanmu masih menjadi hal paling
menyenangkan.
Atau mungkin, aku memang terlalu bodoh. Mengharapkan
hal yang mustahil terjadi. Memilih untuk menjadikanmu nyata, bahkan dalam mimpi
saja kau tak pernah terasa begitu nyata. Bagaimana mungkin kamu akan
benar-benar nyata (?)
Malam ini, sedikit api telah membakar sebatang
lilin kecil yang tak bersalah. Lilin itu berniat baik, ingin memberi terang pada
sekitarnya. Tapi apalah dayanya? Ia hanya mampu diam meski harus merasakan
sakit, tapi dibalik rasa sakitnya, setiap orang di dekatnya menjadi bahagia.
Yaa, lilin rela menjadi bodoh hanya untuk
melihat orang yang disayanginya menjadi terang.
Lilin begitu merindukan orang tersebut, itulah
mengapa ia rela merasakan sakit hanya untuk melihat seseorang.
Malam ini, Aku berteman dengan air mata. Menulis
sebuah kisah tentang rasa. Tentang "Aku yang bodoh, merindukanmu"
Ada hal-hal yang kadang tak perlu kita akui.
Ada pula hal-hal yang kadang tak perlu kita
ketahui.
Ada baiknya jika aku tak perlu mengakui dan kamu
pun tak perlu mengetahui~
Ada saatnya aku seharusnya tak mengetahui dan
kamu tak seharusnya mengakui~
Ada bagian-bagian yang ternyata lebih sakit
ketika pengakuan itu terucap~
Mungkin aku terlalu percaya pada resah, hingga
saat langit terindahnya pergi, aku rayakan pedih dalam sakit yang menyesakkan~
Dear mimpi yang selalu menyenangkan kala ia
datang...
Atas nama rindu kutulis sebuah pengakuan.
Mewakili suara yang tak mampu ku ucapkan.
Aku ingin membuat kisah lagi. Berbagi cerita.
Aku rindu saat aku hanya bisa bungkam ketika
melihat matamu. Aku rindu ketika aku tersipu malu oleh suaramu. Aku rindu
mendengar detak jantungku sendiri yang terasa begitu cepat ketika bersamamu.
Agar kamu lebih memahami arti kataku, kubuat
kalimat ini sebagai penutup. "Aku merindukanmu"
Aku mungkin tak ingat kapan pertama kali aku
mengajakmu berbicara. Aku juga tak ingat ucapan pertamaku kepadamu. Dan aku
bahkan tak ingat ucapan terakhirku padamu, saat dulu.
Yang aku ingat hanyalah...
Hari itu kau datang menghampiriku ke depan
rumahku bersama temanku. Menyebut namaku. Menanyakan beberapa pertanyaan yang
begitu sulit untuk kujawab. Hingga akhirnya kujawab "ya"
Hal yang kuingat lainnya adalah...
Suatu hari yang lain kau menelponku, mengucapkan
pengakuan yang menurutku itu lucu. Dan kuanggap itu hanya lelucon.
Aku membiarkan lelucon itu menertawaiku,
membuatku menangis, dan anehnya ternyata dapat membuatku sakit~
Itu adalah saat semuanya telah berakhir, aku
baru menyadari bahwa tak ada lelucon yang seserius itu.
Aku merasa bodoh.
Dan lebih bodohnya, Aku merindukanmu.
Aku pernah mengatakan kalimat ini pada seorang
temanku, "Aku ga pernah bilang Aku sayang kamu, ke dia"
Ya benar. Aku tak ingat apa aku pernah
mengatakan bahwa aku menyayangimu? Kurasa tak pernah. Karena ketika aku
menyayangimu, biarkan aku yang merasakannya tanpa perlu mengucapkannya.
"Perasaanku
padamu, biarlah. Itu urusanku.
Bagaimana
kamu kepadaku, terserah. Itu urusanmu."
Aku teringat pada kalimat seorang temanku,
"Kalaupun ada yang ke tiga, jangan sampe ada yang ke empat"
Ya benar. Aku berharap akan ada yang ketiga. Dan
akan kupastikan itu akan menjadi yang terakhir, sehingga tak perlu ada yang
keempat.
Apa salah aku berharap ingin mengulang kisah
kita untuk yang ketiga kalinya? Ehmm, sepertinya aku terlalu serakah menginginkan
hal yang sulit sekali kau kabulkan.
Enam bulan yang lalu. Aku mencoba mengingatkanmu
tentang kenangan.
Tapi sepertinya tak berhasil. Kau masih tetap
acuh pada segala hal tentangku. Ingin rasanya aku berteriak, "Apa salahku
padamu? Sebenci itukah dirimu padaku? Apakah kamu marah? Ataukah kesalahanku
benar2 tak akan mendapatkan maaf darimu?"
Ini adalah kisah, tentang Aku dan Kamu yang
memiliki dua kutub saling berlawanan. Seperti air dan minyak yang tak akan
pernah menyatu. Kau, yang tak pernah sedikit pun merindukanku. Sebaliknya, aku
yang tak pernah sedetik pun tak merindukanmu. Bahkan rindu tak pernah menyatu,
bagaimana mungkin kita bisa bersatu?
0 Komentar:
Posting Komentar