• Twitter

8 Juni 2017

Selamat ulang tahun

Merah, aku masih saja menyukaimu, warna yang selalu aku cintai, hingga detik ini.

Merah, aku ingin bercerita.
Merah, aku harus bagaimana? Aku mencintai sesosok lelaki, yang berbeda. Sangat berbeda, kurasa...

Dia, lelaki yang membuatku mau menulis tentangnya, hampir setiap hari.
Entah atas dasar apa, tapi aku begitu memikirkannya, setiap hari.
Dan aku tak tau mengapa, rasa ini semakin besar, setiap hari.
Tapi merah, aku bahkan tak pernah tau, bagaimana perasaannya kepadaku, dia juga tak pernah mengatakannya secara langsung.


Hingga detik ini, aku masih bertanya-tanya, “Aku punya salah apa padanya?”, mengapa ia menjauh? Mengapa ia berhenti membuat kisah? Dan saat ini, ia mampu membuatku berhenti menulis tentangnya. Aku merasa tak ada gunanya menulis untuknya, dia bahkan tak pernah membacanya, lalu untuk apa? Dia tak pernah mau menolehkan wajahnya kepadaku. Lalu untuk apa?
Merah, aku selalu saja menangis jika mengingatnya, aku tak pernah mendapat jawaban atas tanya yang selama ini hinggap di pikiranku. Begitu banyak tanya, dan aku tak pernah tau jawabannya.
Aku tak pernah diizinkan untuk menemuinya, aku tak pernah mendapat penjelasan apa pun, hingga detik ini, aku masih berharap!
Aku adalah melankolis yang lemah, aku seorang periang yang cengeng!
Aku bingung, Merah...

Kamu udah pernah buat aku jatuh sejatuh-jatuhnya dan kali ini kamu buat aku hancur sehancur-hancurnya. Aku takut untuk percaya lagi sama kamu. Setidaknya, dengan si A, semua jelas, putus atau tidaknya. Tapi sama kamu?
Aku bahkan gak pernah tau bagaimana perasaan kamu. Aku masih bertanya-tanya, apakah aku cukup berarti buat kamu? Apakah pernah sedikit saja kamu menoleh kepadaku? Apakah aku adalah salah satu orang yang pernah kau rindukan? Kamu gak pernah bilang semua itu ke aku secara langsung. Dan aku benci itu. Aku menjatuhkan harapan kepada orang yang salah?

Aku pernah ngobrol dengan seorang sahabat, Nu. “Dia pernah cerita, Be, intinya, ketika dia lagi deket sama cewek, selalu aja tiba-tiba cewek itu menjauh, dia itu selalu seolah-olah jadi korban PHP” aku tersentak kaget mendengarnya, aku merasa dia tidak layak diperlakukan seperti itu, seharusnya dia mendapatkan cinta yang luar biasa besar, dasar perempuan bodoh. Bisa-bisanya menjauhi lelaki sebaik dia!
Merah, kadang aku berpikir, aku tak mau menjadi salah satu perempuan bodoh itu, aku tak mau menjauh darinya. Tapi... lagi-lagi aku bertanya, “Aku punya salah apa padanya?” Mengapa aku diperlakukan seperti ini, Merah? Sedang aku bahkan tak pernah terpikirkan sedikit pun untuk memperlakukannya demikian. Aku ingin selalu ada untuknya, aku ingin selalu bersamanya. Tapi...
Jika memang aku tak layak untuknya, seharusnya dia bilang.
Jika memang aku terlalu buruk baginya, seharusnya dia bilang.
Seharusnya dia bilang, kan, Merah?
Tapi... Dia tak pernah mengatakannya...

Esok, adalah hari ulang tahunnya. Aku mungkin tak memiliki barang yang special untuk diberikan padanya, atau perasaan yang luar biasa besar untuknya. Tapi setidaknya, aku panjatkan doa yang tulus dari hati ini, untuk kebaikannya, bersama orang lain yang lebih mencintainya.
Ya, kurasa ia telah menemukan‘nya’. Seseorang yang lebih mencintainya, daripada rasaku. Terakhir kali chat dengannya, membahas soal hubungannya yang sedang dekat dengan seorang perempuan.

Hai, apa kabar kamu?
Bagaimana dengannya?
Aku mencoba memposisikan diriku sebagai dia.
Perempuan, ingin dimengerti, lewat tutur lembut, dan tawa bahagia. Sudahkah melakukan tugas itu, untuknya?
Jika aku menjadi dia, aku tak ingin ada seorang lelaki yang mendekat, kemudian tiba-tiba menjauh tanpa alasan.
Aku tak ingin menyakitinya, wahai lelaki yang dahulu berrambut panjang.
Aku tak ingin bahagia diatas tangisnya, aku tak ingin tertawa diatas pedihnya.
Jangan menjauhinya, ya? Good luck. It’s okay. I’m fine.
Selamat ulang tahun.



0 Komentar:

Posting Komentar